Pulau Sumatera

Pulau Sumatera Indonesia yang indah adalah rumah bagi kekayaan satwa liar. Daerah ini terletak di sebelah barat Jawa, dan dikenal dengan medan tropisnya yang terjal. Terlepas dari keindahan alamnya, itu juga merupakan pusat ekonomi yang berkembang. Kota utamanya, Medan, merupakan pusat industri dan perdagangan yang ramai dan beragam.

Danau Singkarak

Ada beberapa danau alam di Indonesia. Beberapa di antaranya berada di Jawa, Bali, dan Sulawesi. Mereka memiliki kisaran luas permukaan dari 0,4 hingga 1.130 km2. Sebagian besar adalah danau dangkal, meskipun ada juga yang dalam.

Badan air ini digunakan untuk keperluan industri dan rumah tangga. Sumber daya alam danau dan waduk ini penting bagi perekonomian negara. Untuk alasan ini, penting untuk mempelajari kesehatan ekologi mereka.

Meskipun penting, data mengenai limnologi danau di Indonesia masih terbatas. Proyek ini merupakan upaya untuk mengatasi hal tersebut. Ini adalah studi percontohan dan bertujuan untuk membangun landasan ilmiah dasar untuk studi lebih lanjut.

Laporan ini didasarkan pada data yang dikumpulkan selama empat fase lapangan. Lebih dari 8.000 pengukuran dari 39 variabel dicatat. Identifikasi fitoplankton juga dilakukan.

Salah satu tantangan utama dalam melakukan studi limnologi danau di Indonesia adalah kurangnya informasi batimetri. Hanya sekitar separuh danau alam di Indonesia yang memiliki grafik kedalaman. Selain itu, banyak dari mereka telah dikunjungi secara sporadis. Dengan demikian, kesimpulan tentang stratifikasi dan pola pencampuran sulit untuk ditarik.

Ada kebutuhan mendesak untuk studi komprehensif tentang danau-danau di Indonesia. Hal ini sangat penting dalam konteks pengelolaan penggunaan lahan. Untuk mencapai hal ini, masyarakat Indonesia perlu mengumpulkan dan mengumpulkan banyak informasi latar belakang tentang danau. Selain itu, atlas cekungan danau berbasis komputer harus disusun.

Orangutan Indonesia Pulau Sumatera

Orangutan adalah kera besar yang ditemukan di pulau Sumatera Indonesia. Mereka langka di alam liar dan terancam oleh penggundulan hutan, hilangnya habitat, dan perburuan liar. Hewan ini adalah satu-satunya kera besar yang ada di Asia.

Orangutan memiliki populasi kecil dan terutama ditemukan di hutan hujan Sumatera. Ada 3 spesies orangutan di pulau ini. Ketiganya masuk dalam Daftar Merah IUCN sebagai kritis.

Orangutan dulunya umum di Asia Tenggara. Namun, perusakan habitat dan perburuan liar menjadi ancaman utama bagi kelangsungan hidup mereka. Deforestasi adalah ancaman terbesar bagi orangutan, karena hutan hujan dibuka untuk perkebunan kelapa sawit dan pertanian lainnya.

Sebuah program reintroduksi yang dikoordinasikan oleh Proyek Konservasi Orangutan Sumatera berusaha menyelamatkan kera-kera ini. Proyek ini didukung oleh German Research Foundation dan Stiftung Mensch und Tier. Sejak tahun 2002, lebih dari 160 orangutan bekas peliharaan telah dilepasliarkan di wilayah tersebut.

Kajian orangutan di stasiun Frankfurt Zoological Society (FZS) merupakan upaya besar untuk memahami proses penyiapan orangutan untuk hidup di hutan. Selain mempelajari morfologi hewan tersebut, peneliti juga mendalami perilaku spasial.

Orangutan yang dipelihara lebih dekat dengan stasiun FZS menunjukkan perilaku spasial yang lebih mirip dengan spesies sejenis liar daripada yang lebih jauh. Namun seiring bertambahnya usia orangutan, jarak yang bisa mereka tempuh dari stasiun FZS juga semakin berkurang.

Tapir Pulau Sumatera

Tapir di Sumatera terancam oleh hilangnya habitat, perburuan, dan perangkap yang disengaja. Saat ini tidak ada perkiraan populasi pasti untuk hewan-hewan ini, tetapi diperkirakan sekitar 400-500 individu.

Tapir Malaya menghuni hutan lebat dan daerah rawa di Asia Tenggara. Mereka hidup di padang rumput yang berbatasan dengan sungai dan hutan dipterokarpa kering selama musim hujan dan pindah ke hutan cemara selama musim kemarau.

Tapir Malaya adalah spesies tapir terbesar dengan berat 280-400 kg. Serial TV berjudul ‘Kehidupan Nyata di Kebun Binatang’ di NPO1 menampilkan sepasang tapir Melayu yang memainkan peran utama.

Untuk menentukan jangkauan tapir digunakan teknik camera trapping. Sebanyak 20 kamera ditempatkan di sepuluh lokasi di Krau Wildlife Reserve, Malaysia. Metode mempelajari hewan nokturnal ini efektif.

Bukti keberadaan tapir di Sumatera antara lain feses, tengkorak, jejak kaki, dan tumpang tindih wilayah jelajah. Di TNKS, tapir terdeteksi di daerah dengan bukti harimau yang tinggi. Daerah ini menunjukkan bukti tapir dalam proporsi yang lebih rendah daripada daerah tanpa bukti harimau.

Analisis jangka panjang diperlukan untuk mengetahui populasi tapir Melayu saat ini di Sumatera. Diperkirakan populasi telah menurun lebih dari 50% dalam 36 tahun terakhir.

Owa

Ada tiga jenis owa yang ditemukan di Sumatera. Mereka adalah siamang, si lincah dan owa bertangan putih. Semuanya diklasifikasikan sebagai terancam punah oleh Daftar Merah Persatuan Internasional untuk Pelestarian Alam (IUCN).

Owa lincah terancam oleh perdagangan hewan peliharaan ilegal. Aliansi baru LSM berkampanye menentang memelihara owa sebagai hewan peliharaan.

Pusat rehabilitasi owa baru sedang dibangun di pulau Sumatera. Namun, tidak memiliki kapasitas untuk merawat owa yang disita. Banyak dari hewan yang disita ini membutuhkan perawatan suaka seumur hidup.

Owa di Sumatera terancam oleh deforestasi, perburuan untuk konsumsi manusia dan perdagangan satwa liar ilegal. Ekspansi pertanian merupakan kontributor utama hilangnya hutan di pulau itu. Selain penggundulan hutan, owa juga diburu selama konflik manusia-owa.

Siamang, kera kecil terbesar, berasal dari hutan Malaysia dan Sumatra. Kantung tenggorokannya dapat digelembungkan hingga ukuran 90 cm, memungkinkannya untuk bersuara keras.

Owa siamang dilindungi oleh hukum Indonesia. Terlepas dari perlindungannya, ada sejumlah ancaman yang dihadapi spesies ini, termasuk penggundulan hutan, hilangnya habitat, penangkapan oportunistik untuk perdagangan hewan peliharaan, dan perburuan untuk konsumsi manusia.

Tikus Pohon

Tikus pohon adalah mamalia kecil yang ditemukan di wilayah timur Asia. Mereka aktif di malam hari. Moncong mereka runcing. Banyak yang memiliki ekor panjang dan lebat yang bisa sepanjang badan. Spesies lain memiliki garis-garis di bagian belakang. Beberapa memiliki tanda wajah.

Tikus pohon betina yang khas melahirkan satu hingga tiga anak. Masa kehamilan bisa berlangsung selama lima puluh hari. Selama fase meringkuk, anak muda menghabiskan waktu hingga satu setengah jam bersama induknya. Betina memberi makan anaknya dengan susu rendah karbohidrat.

Tikus pohon biasa biasanya hidup dengan pasangan. Mereka memakan daun, buah, dan laba-laba. Kepala tikus pohon biasa memiliki panjang 7,5 inci. Mereka memiliki garis-garis bahu yang ringan.

Mata mereka besar dan memiliki indera pendengaran yang berkembang dengan baik. Mereka memiliki cakar di jari kaki dan jari mereka. Seperti tupai, mereka memiliki telinga berbulu. Namun, mereka tidak memiliki kumis.

Ada lima genera dalam keluarga Tupaiidae. Tikus pohon biasa memiliki ekor yang panjang dan lebat. Warnanya oranye atau merah di bagian atas, tetapi bagian bawahnya bisa berwarna keputihan atau coklat.

Ada sembilan belas spesies tikus pohon di Kalimantan. Hewan ini juga dapat ditemukan di Sumatera, Indonesia.

Lemur Terbang

Lemur terbang Sunda adalah hewan arboreal kecil, dengan panjang kepala-badan 33 hingga 42 cm. Ini endemik di Indocina dan Asia Tenggara. Populasinya menurun. Populasinya diperkirakan sekitar 1000 individu di Asia Tenggara.

Ancaman terpenting bagi lemur terbang Sunda adalah penggundulan hutan, terutama di Asia Tenggara. IUCN mencantumkan spesies tersebut sebagai Least Concern. Sebagian besar penurunan ini disebabkan oleh perburuan subsisten lokal, yang telah mengurangi jumlah hewan. Ancaman besar lainnya adalah hilangnya hutan hujan di Asia Tenggara. Selain itu, spesies ini bersaing dengan penebang yang secara selektif hanya menebang satu jenis pohon di hutan.

Lemur terbang berkerabat dekat dengan kera dan monyet. Mereka diadaptasi untuk meluncur dari pohon ke pohon, dengan mengandalkan membran luncurnya, yang memanjang dari ekor hewan. Ini membantu mereka menghindari rintangan, sekaligus membantu mereka mengerem.

Lemur terbang pada dasarnya adalah herbivora, memakan bagian tumbuhan yang lunak. Namun, mereka juga mengonsumsi nektar. Mereka bisa meluncur sejauh 100 meter. Pada malam hari, mereka mencari makan di banyak pohon berbeda dalam satu malam. Biasanya, mereka tidur di sebuah lubang di pohon.

Harimau Pulau Sumatera

Harimau Sumatera merupakan subspesies harimau yang paling kecil dan dapat ditemukan di Indonesia. Habitat mereka berkisar dari dataran rendah pesisir hingga hutan pegunungan. Mereka adalah karnivora dan memakan hewan kecil dan ternak.

Di alam liar, harimau sumatera terancam oleh penggundulan hutan dan perburuan liar. Populasi telah menurun selama dua puluh tahun terakhir. Hal ini disebabkan oleh konversi pertanian dan deforestasi yang merajalela. Sekarang hanya ada beberapa populasi harimau yang tersisa di alam liar.

Harimau Sumatera adalah salah satu spesies yang paling terancam punah di Bumi. Itu terdaftar sebagai terancam punah oleh IUCN Red List of Threatened Species. Perburuan liar, hilangnya habitat, dan konflik manusia-harimau berkontribusi terhadap penurunannya.

Harimau Sumatera lebih suka hidup di hutan lebat yang tidak digarap. Mereka berburu rusa, babi hutan, dan ikan. Mereka mampu berenang dengan baik berkat anyaman khusus di antara jari kaki mereka. Predator ini juga menyendiri, menghindari kontak manusia.

Seekor harimau betina akan melahirkan antara satu hingga enam anak. Tandunya paling umum antara bulan Maret dan Juni. Saat lahir, anaknya buta. Setelah sekitar satu minggu, mereka mulai membuka mata.

Subpopulasi harimau terbesar terdapat di Taman Nasional Kerinci Seblat. Subpopulasi lain ditemukan di Taman Nasional Gunung Leuser. Bahkan di kawasan lindung, perburuan adalah masalah.

Updated: Desember 23, 2022 — 10:29 am